Tingkatan-Tingkatan Orang Dalam Memahami Ilmu Agama

tingkatan Orang Dalam Memahami Ilmu Agama Tingkatan-tingkatan Orang Dalam Memahami Ilmu Agama
- Dari Abu Musa radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasannya ia telah bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah berikan padaku bagaikan air hujan yang jatuh di atas tanah. Di antara tanah tersebut ada bab tanah yang sangat subur, sehingga sanggup mendapatkan air dan tumbuhlah rerumputan hijau di sekelilingnya. Ada juga bab tanah yang kering dan gersang sehingga ia menahan air. Maka dari tanah ini Allah memberi manfaat kepada umat insan untuk minum, mengambil air dan bercocok tanam. Bagian tanah yang lainnya yaitu datar sehingga tidak sanggup menahan air hujan serta tidak ditumbuhi rerumputan. Perumpamaan orang pertama ialah orang yang memperdalam ilmu agama dan memberi manfaat kepada orang lain. Kedua, ialah perumpamaan orang yang mempelajari ilmu dan mengamalkannya untuk dirinya sendiri. Ketiga, ialah perumpamaan orang yang lalai dan tidak mau mendapatkan petunjuk (hidayah) dari Allah."

3 tingkatan orang (manusia) dalam memahami (mempelajari) ilmu agama


Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengambarkan 3 tingkatan orang dalam memahami ilmu agama, yakni:

1. Tanah yang subur


Merupakan perumpamaan bagi orang yang hebat dan mumpuni dalam ilmu agama, di mana ia bisa memanfaatkan ilmunya itu bagi dirinya dan juga orang lain menurut Al-Qur'an dan Hadits.

2. Tanah yang kering dan gersang tetapi ia sanggup menampung air sehingga orang-orang sanggup memanfaatkan airnya


Merupakan perumpamaan bagi orang yang memelihara apa yang ia dengar. Kemudian sesudah itu, ia manfaatkan untuk dirinya sendiri, hingga orang lain yang lebih mengerti dari dirinya sanggup mengambil manfaat darinya, sebagai mana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Terkadang orang yang memberikan itu lebih mengerti dari orang yang mendengar, dan terkadang orang yang mengajarkan ilmu fikih itu bukanlah orang yang hebat dalam ilmu agama."

3. Tanah datar yang tidak sanggup menampung air dan tidak ditumbuhi tanaman


Merupakan perumpamaan bagi orang yang tidak mau memelihara dan memperhatikan apa yang ia dengar. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam Al-Qur'an, "Katakanlah, apakah sama orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dengan orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan?" (Al-Qur'an surat Az-Zumar ayat 9)

"Adakah orang yang mengetahui sebetulnya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta?" (Al-Qur'an surat Ar-Ra'd ayat 19)

Dalam surat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyerupakan atau menyamai orang yang melalaikan dan benci kepada ilmu pengetahuan dengan anjing, sebagai rasa penghinaan dan perendahan martabat dirinya. Dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan bacakanlah kepada mereka info orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan wacana isi Al-Kitab), kemudian ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, kemudian dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat?" (Al-Qur'an surat Al-Araaf ayat 175)

"Dan kalau Kami kehendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya menyerupai anjing, kalau kau menghalaunya dijulurkan lidahnya dan kalau kau membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu biar mereka berpikir." (Al-Qur'an surat Al-Araaf ayat 176)

Pesan yang penuh makna dari Ali bin Abu Thalib dalam memahami ilmu agama


Dari Kumail bin Ziyad An-Nakha'i sebetulnya ia telah berkata, "Pernah pada suatu ketika, Ali bin Abu Thalib mengepit tanganku dan mengajakku keluar ke halaman depan rumah. Ketika kami telah berada di halaman yang luas itu, ia (Ali bin Abu Thalib) pribadi duduk dan menarik nafas seraya berkata, Hai Kumail bin Ziyad, ingatlah apa yang akan saya katakan kepadamu. Sesungguhnya hati itu laksana wadah, dan wadah yang paling baik yaitu wadah yang sanggup menampung isi yang banyak. Hai Kumail bin Ziyad, ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya insan itu terbagi menjadi tiga (3) golongan; Orang yang tepat ilmu dan ibadahnya, orang yang selalu menuntut ilmu untuk sanggup menyelamatkan dirinya dari kesengsaraan di dunia dan akhirat, dan orang yang tidak berpendidikan sehingga gampang terombang-ambing oleh keadaan serta tidak menyukai ilmu pengetahuan. Hai Kumail bin Ziyad, sesungguhnya ilmu itu lebih berharga daripada harta benda. Ilmu itu sanggup menjagamu, sedangkan kau menjadi budak bagi harta.

Ungkapan Ali bin Abu Thalib tersebut merupakan ungkapan yang indah makna dan susunan kata-katanya. Sedangkan teori pembagian terstruktur mengenai insan yang diutarakannya merupakan teori pembagian terstruktur mengenai insan yang sangat menarik dan tinggi akan tingkat validitasnya. Karena bagaimanapun insan yang hidup di dunia ini (jika ditinjau dari segi kesempurnaan nalar dan kognitifnya) tidak akan terlepas dari tiga pembagian terstruktur mengenai tersebut, apakah ia akan menjadi seorang yang akil pengetahuan yang luas, ataukah sebagai seorang yang mencari ilmu, ataupun orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan.

Yang dimaksud dengan orang yang tepat ilmu dan ibadahnya yaitu orang yang tidak sanggup dikalahkan keutamaan dan kedudukannya oleh orang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan orang yang menuntut ilmu biar sanggup selamat dari segala kesengsaraan di dunia dan alam abadi yaitu orang yang mencari ilmu untuk sanggup mengetahui hukum-hukum agama, sehingga ia sanggup melakukan kewajiban agamanya dengan baik. Sementara kelompok ketiga yaitu orang yang tidak berpendidikan dan tidak mengasihi ilmu sebagai suatu anugerah Rabb yang Maha Kuasa bagi umat manusia. Orang yang masuk kepada kategori kelompok yang ketiga yaitu orang yang mendapatkan kedudukan yang rendah dan kondisi kehidupan yang serba kekurangan.

Nah, itulah artikel wacana "Tingkatan-tingkatan Orang Dalam Memahami Ilmu Agama". Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, bisa menghubungi Admin di hidangan yang telah tersedia :) Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa dampak yang baik. Wallahu a'lam bisshawab

"Gambar dan isi goresan pena di dalam postingan ini diambil dan diperbaharui dari aneka macam sumber, mohon maaf apabila terdapat kesalahan, baik itu maksud dari isi postingan ini atau kesalahan apapun. Bijaklah dan selalu berguru untuk mengambil sisi positifnya ya sob!"

Kata kunci terkait pada artikel ini:

Beberapa tingkatan insan dalam mempelajari ilmu pengetahuan agama

0 Response to "Tingkatan-Tingkatan Orang Dalam Memahami Ilmu Agama"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel